Minggu, 01 Februari 2009

Kisah Empat Sekawan di Bromo, Negeri di Atas Awan


Indonesia terkenal dengan negeri berelief tidak rata dan bisa dikatakan negeri pegunungan. Banyak gunung yang menjulang tinggi di angkasa, baik yang bersifat aktif maupun sudah non-aktif, yang menjajar membentuk untaian gelombang dataran yang tak ternilai keindahannya.

Bromo, daerah dengan rangkaian pegunungan yang tersusun rapi dari beberapa gunung diantaranya gunung bromo dan gunung semeru. Bromo mempunyai ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut itu berada dalam empat wilayah, yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Kabupaten Malang. Bentuk tubuh Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi. Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo.

Kisah empat sekawan dimulai dari semarang menuju surabaya. Tiga orang Beswan Djarum Semarang angkatan 2006/2007 yang terdiri dari Hafid Hudanul Eka Ebpa, S.Kom, Akhmad Yogi Pratomo dan Ratri Mustikaning Handoko, S.Psi (Tim Website Beswan Djarum) yang didampingi pembina Beswan Djarum Regional Semarang Pazia Andika, terbang dari semarang ke surabaya. Di surabaya sudah ditunggu dr. Rudy Djauhari selaku senior manager Pt. Djarum, Sukiman pembina Beswan Djarum Regional Surabaya dan seorang Beswan Djarum Malang yang bernama Putri yang terkenal di kalangan anak Beswan Djarum se-antero Indonesia dengan sebutan “CEMPLON”.

Perjalanan dari surabaya ke bromo yang mulanya membosankan karena sepanjang danau lumpur dilanda kemacetan cukup parah. Kami terdampar di sana lebih dari satu jam. Akan tetapi, setelah memasuki daerah bromo kepekatan pikiran mulai hilang. Pemandangan indah dan hawa sejuk pegunungan mulai menusuk jiwa. Semua pikiran kotor seolah tersiram air suci pegunungan bromo. Tidak hanya itu saja, hawa dingin yang menusuk tak mempengaruhi kehangatan persahabatan selama perjalanan.

Tiba di tempat penginapan, kami terheran-heran melihat barisan motor gedhe pabrikan amerika, yang didirikan oleh Harley dan Davidson,seolah-olah menyambut kedatangan anak emas Pt. Djarum. Tidak disangka dari deretan motor Harley - Davidson itu, ada yang dimiliki satu artis sinetron laga tahun 90-an. Akan tetapi, sikap mereka yang sangat acuh tanpa mempedulikan kepentingan orang lain membuat kami tidak respect.

Pagi yang dingin merupakan awal kehidupan masyarakat Bromo. Raungan mobil jeep yang membahana mengelitik telinga wisatawan yang bermalam disana. Iring-iringan mobil tanpa putus menanjak terjalnya Gunung Bromo. Ada juga yang membawa motor bahkan ada yang berjalan mendaki puncak tanpa kenal lelah menyemarakkan pagi yang belum genap.

Sightview ketika matahari terbit dari puncak Bromo benar-benar menyuguhkan pemandangan yang luar biasa. Mata tak mau berkedip untuk menikmati bukti keagungan tuhan yang ditorehkan melalui ciptaannya yang maha agung, itulah Gunung Bromo. Daya tarik itu yang menyebabkan berbondong-bondong wisatawan yang ingin menikmati keindahannya. Tidak hanya wisatawan indo saja yang datang kesana, wisatawan seluruh penjuru dunia juga tidak mau kalah untuk melihat sunrise. Kebanyakan dari mereka singgah di Bromo setelah menikmati liburan yang menakjubkan di pulau dewata. Sayangnya, wisatawan asing yang datang agak kecewa dengan sikap wisatawan indo yang cenderung acuh tak acuh, ingin menikmati kilau berlian pagi sendiri tanpa mempedulikan wisatawan yang lain. Mereka tidak duduk di tempat yang sudah disediakan, bahkan ada yang berdiri di palang pembatas sehingga menutupi pandangan yang lain. Ada seorang turis eropa yang marah dengan situasi yang seperti itu, tapi apalah daya mereka tidak tahu yang turis itu bicarakan. Mereka anggap angin lalu. Apakah ini mencerminkan budaya Bangsa Indonesia sebagai orang timur?


Ketika semerkah cahaya keemasan muncul di ufuk timur Gunung Bromo dan tatkala sang surya mulai menampakkan batang hidungnya, wisatawan menyambutnya dengan riuh tepuk tangan. Samar – samar keindahan Gunung Bromo tampak dengan gagahnya. Gunung Semeru pun yang baris di belakang juga jelas mempesona. Asap yang keluar mengepul baik dari kawah Bromo maupun Semeru menambah harmoni pagi yang agung di kawasan Bromo. Kami orang awam yang baru pertama menginjakkan dari di Bromo tanpa henti – hentinya memanfaatkan kamera digital. Bahkan untuk mengambil moment yang tepat dan bagus, empat sekawan pun terjun melewati pagar batas. Dibutuhkan perjuangan yang lumayan sulit untuk mencapainya dan tidak sembarang orang yang bisa mencapainya. Tapi hasil yang didapat sangat sepadan dengan perjuangan yang telah dilalui.

Puas menikmati sightview di Bromo, perjalanan dilanjutkan dengan menuruni jalan terjal untuk melihat lautan pasir dan padang rumput yang menawan. Kealamian alamnya masih terasa menyejukkan hati. Adanya pura di kaki Bromo mengisyratkan kepercayaan asli masyarakat Bromo (suku tengger) beragama hindu. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo disana. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa.

Hadiah istimewa dari Pt. Djarum ini tidaklah keberuntungan belaka. Butuh perjuangan ide dan kreatifitas yang mumpuni untuk membanggakan beswan djarum. Perjuangan yang ikhlas dan sungguh – sungguh kami, mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari Pt. Djarum.

So, bagi beswan djarum khususnya yang masih aktif, tunjukkan ide dan kreatifitas kalian di organisasi ini. Kalian adalah orang – orang terpilih yang terjaring dari berbagai universitas. Janganlah berpangku tangan dengan hanya menerima uang beasiswanya saja, Pt. Djarum akan mendidik kalian dengan ilmu softskill yang tidak diajarkan di bangku perkuliahan. Manfaatkanlah !!! Kesempatan hanya datang sekali dalam hidup anda. Jangan menjadi orang yang merugi di kemudian hari. Buatlah negeri di atas awanmu sendiri.

2 komentar:

  1. salut buat pengalamanmu, Semoga penulis lebih terpacu menjadi lebih dan lebih baik untuk masa depan....tapi oleh2nya mana????

    BalasHapus
  2. hehehehe...
    gak sempet ke toko oleh2, soalnya dari bromo langsung pulang ke surabaya.
    Sori yak,.lain kali klo ke bromo lagi..hiks-hiks

    BalasHapus